Minggu, 05 Desember 2010

REMAJA DAKWAH

Mengapa dakwah itu wajib?
Jawabnya gini, sebab Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek-bebek sama dakwah berarti bukan mukmin sejati. Bener, lho. Apa iya kamu tega kalo ada teman kamu yang berbuat maksiat kamu diemin aja? Nggak mungkin banget kan kalo ada temen yang sedang berada di bibir jurang dan hampir jatuh, nggak kamu tolongin. Iya nggak sih?
Boys and gals, bahkan Allah memuji aktivitas dakwah ini sebagai aktivitas yang mulia, lho. FirmanNya:
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim” (QS Fushshilat [41]: 33)
Dalam ayat lain Allah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk berdakwah. Seperti dalam firmanNya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS an-Nahl [16]: 125)
Menyeru kepada yang ma’ruf (kebaikan) dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya, mampu mencapai hingga sepertiga dunia. Itu artinya, hampir seluruh penghuni daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Kamu tahu, ketika kita belajar ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga lautan. Wah, hebat juga ya para pendahulu kita? Betul, sebab mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat “tauhid” di bumi ini. Sesuai dengan seruan Allah (yang artinya): “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.” (QS al-Baqarah [2]: 193)
Kini, di jaman yang udah jauh berubah ketimbang di “jaman onta”, arus informasi makin sulit dikontrol. Internet misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata kita kudu ngurut dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya nilai-nilai ajaran Islam di kalangan kaum muslimin. Tentu ini akibat informasi rusak yang telah meracuni pikiran dan perasaan kita. Utamanya remaja muslim. Kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut peradaban Barat seperti seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Walhasil, amburadul deh!
Itu sebabnya, sekarang pun dakwah menjadi sarana sekaligus senjata untuk membendung arus budaya rusak yang akan menggerus kepribadian Islam kita. Kita lawan propaganda mereka dengan proganda kembali. Perang pemikiran dan perang kebudayaan ini hanya bisa dilawan dengan pemikiran dan budaya Islam. Yup, kita memang selalu “ditakdirkan” untuk melawan kebatilan dan kejahatan.
Sobat muda muslim, Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk menegakkan agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita lakukan, maka kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, bahkan kita mampu untuk membangun kembali kemuliaan ajaran Islam dan mengokohkannya. Tentu, semua ini bergantung kepada partisipasi kita dalam dakwah ini.
Coba, apa kamu nggak risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja? Apa kamu nggak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar yang makin tinggi? Apa kamu nggak kesel ngeliat tingkah remaja yang hidupnya nggak dilandasi dengan ajaran Islam? Seharusnya masalah-masalah model beginilah yang menjadi perhatian kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita nggak tenang kalo belum berbuat untuk menyadarkan kaum muslimin yang lalai.
Untuk ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara kita. Sebab, kita menyadari bahwa kita bukanlah manusia super yang bisa melakukan aksi menumpas kejahatan hanya dengan seorang diri. Kalo kita ingin cepat membereskan berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang apik, solid dan fokus pada masalah. Pemikiran dan perasaan di antara kita kudu disatukan dengan ikatan akidah Islam yang lurus dan benar. Kita harus satu persepsi, bahwa Islam harus tegak di muka bumi ini. Kita harus memiliki cita-cita, bahwa Islam harus menjadi nomor satu di dunia untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran. Itulah di antaranya kenapa kita wajib berdakwah, Bro. Semoga kamu paham.
Dakwah itu tanda cinta
Bro en Sis, seharusnya kita menyambut baik orang-orang yang mau meluangkan waktu dan mengorbankan tenaganya untuk dakwah menyampaikan kebenaran Islam. Sebab, melalui merekalah kita jadi banyak tahu tentang Islam. Kita secara tidak langsung diselamatkan oleh seruan mereka yang awalnya kita rasakan sebagai bentuk ‘kecerewetan’ mereka yang berani ngatur-ngatur urusan orang lain. Padahal, justru itu tanda cinta dari sesama kaum muslimin yang nggak ingin melihat saudaranya menderita gara-gara nggak kenal Islam dan nggak taat sama syariatnya.
Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas.” Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR Bukhari)
Sobat, dakwah adalah darah dan napas kehidupan Islam. Itu sebabnya, kita yang masih remaja pun dituntut untuk mampu tampil sebagai pengemban dakwah yang handal. Kita khawatir banget, seandainya di dunia ini nggak ada orang-orang yang menyerukan dakwah Islam, bagaimana masa depan kehidupan umat manusia nanti? Jangan sampe Islam dan umat ini hanya tinggal “kenangan”. Yuk, kita kaji Islam biar mantap dan semangat mendakwahkannya. [osolihin: sholihin@gmx.net]

Membuat Anak Kian Cinta Buku

Shofia Tidjani
Kebiasaan membaca cenderung menurun seiring bertambahnya usia anak. Agar anak menjadi suka membaca hingga dewasa, membiasakan read aloud sejak dini menjadi salah satu kiat menumbuhkan minat baca dan kecintaan mereka kepada buku.
Sambil berkerumun tidak teratur, sekumpulan anak tekun mendengarkan seorang pria dewasa membaca cerita-cerita anak dari sebuah buku digenggamannya. Sesekali terdengar jerit kaget, takjub dan keheranan anak-anak itu. “Lebih enak denger ceritanya daripada baca,” kata Adi bocah yang duduk di kelas tiga SD.
Buku merupakan salah satu sumber informasi yang mudah diakses. Informasi yang bisa didapatkan dari buku juga sangat beragam, dari yang sifatnya mendidik hingga menghibur. Walau teknologi telah berkembang pesat, buku tetap menjadi media utama dalam proses belajar anak.
Masalahnya, bagaimana cara kita menumbuhkan minat anak untuk mencintai buku, sumber ilmu itu? Karena tak dapat dipungkiri minat baca masyarakat Indonesia terbilang masih sangat rendah.
Di DKI Jakarta, indikasi ini terlihat dari minimnya pengunjung perpusatakaan umum daerah. “Hanya sekitar 200 orang per hari tahun lalu,” kata Bose Devi, Kepala Kantor Perpustakaan Umum Daerah DKI Jakarta.
Walau Jakarta saat ini memiliki 30 perpusatakaan, tapi minat membaca di perpustakaan tak kunjung meningkat. Berbanding jauh dengan perpustakaan di Beijing, Cina, yang bisa menerima kunjungan hingga 10 ribu orang setiap harinya.
Belum lagi menyimak kemirisan sastrawan senior Taufik Ismail, melihat rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, terutama pelajar. Menurutnya, dulu di zaman Hindia Belanda, seorang pelajar tingkat menengah selama tiga tahun harus membaca minimal 25 buku, tapi sekarang malah nol.
Jika demikian kondisinya, apa yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku? Menurut terapis anak Evi Junita, S.Psi, banyak hal dapat dilakukan dari mulai memperdengarkan cerita (mendongeng), memunculkan suasana kondusif untuk membaca di keluarga atau dengan cara menumbuhkan kebiasaan membaca lantang (read aloud).
Berdasarkan tujuannya, imbuh Evi, kedua aktivitas tersebut adalah berbeda.Read aloud bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku, sedangkan mendongeng bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada cerita dan bahasa. Tujuan ini berkaitan dengan perbedaan kedua aktivitas ini berdasarkan teknik pelaksanaannya.
Karena read aloud adalah aktivitas membacakan buku dengan lantang, maka kehadiran buku sangat diperlukan karena kehadiran buku menjadi ciri khas dari aktivitas ini. Sedangkan pada aktivitas mendongeng, buku tak perlu dihadirkan karena mendongeng adalah aktivitas menceritakan cerita dengan bahasa orangtua yang lebih lugas dan menghibur.
Mengapa Read Aloud
Sebuah riset di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kebiasaan membaca akan mengalami penurunan yang sangat drastis seiring bertambahnya usia anak. Dan sekolah formal tidak menciptakan “lifetime readers” (pembaca abadi), tapi hanya menciptakan “schooltime readers” (pembaca di jam sekolah), atau mereka yang membaca hanya agar dapat lulus sekolah.
Dalam hasil penelitian ‘Becoming a Nation of Readers’ ditemukan bahwa satu-satunya kegiatan yang paling penting untuk dapat meningkatkan pengetahuan agar seseorang menjadi gemar membaca adalah melalui kegiatan reading aloudyang dilakukan sejak dini. Kegiatan ini harus dilakukan baik di rumah, maupun di sekolah atau selama si anak menempuh pendidikan sekolah.
Filosofi mengapa reading aloud menjadi kegiatan yang teramat penting, karena upaya menanamkan minat membaca, akan lebih mudah dilakukan saat seseorang masih belia.
Dalam Bab pertama The Read Aloud Handbooki karya Jim Trelease disebutkan,reading aloud dapat efektif untuk anak-anak karena dengan metode ini kita bisa mengkondisikan otak anak untuk mengasosiasikan membaca sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan. Juga menciptakan pengetahuan yang menjadi dasar bagi si anak, membangun koleksi kata (vocabulary), dan memberikan car abaca yang baik (reading role model).
Hal ini menurut Jim didasari oleh dua prinsip: Pertama, manusia merupakan makhluk yang suka dengan hal-hal yang dirasa menyenangkan bagi dirinya, dan dengan reading aloud banyak hak kesukaan bisa didapat. Kedua, membaca merupakan suatu kemampuan yang dapat diperoleh dengan cara dipelajari.
Finlandia menjadi negara yang mempunyai pembaca terbaik. Ini terjadi karena tingginya frekuensi guru membacakan buku dan pengetahuan kepada para murid, juga tingginya frekuensi anak melakukan kegiatan rutin membaca buku dengan diam (sustained silent reading).
Anak yang mempunyai dasar pengetahuan, akan lebih mudah menangkap informasi dari apa yang ia baca. Saat anak di usia TK, dengan read aloudmemungkinkan anak mempunyai role model yang akan diimitasi perilakunya. Dengan read aloud, vocabulary (koleksi kata) yang dimiliki anak juga akan meningkat, yang kemudian menentukan kemudahannya memahami pelajaran.
Menurut Jim, saat kita berbicara dengan anak, maka kita hanya akan menggunakan kosa kata umum (common lexicon), tapi saat membacakan buku kepada anak, maka kita akan memperkenalkan anak dengan koleksi kata-kata yang jarang ditemui dalam pembicaraan. Koleksi kata inilah yang akan membantu anak untuk mengenal kata-kata yang ada dalam buku dan media cetak lainnya.
Kunci Utama
Read aloud dapat dimulai sejak dini, bahkan sejak bayi baru lahir. Semakin dini buku diperkenalkan maka hasilnya akan semakin optimal upaya menumbuhkan kecintaan anak pada buku.
Untuk melakukan read aloud, imbuh Evi, tak ada waktu dan tempat khusus untuk melakukannya. Bisa di rumah, saat hendak tidur, sepanjang perjalanan berkendara, menunggu pesawat atau kereta api, atau saat menunggu antrian dokter. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan konsistensi melakukanread aloud. Rutin adalah kunci utama keberhasilannya.
Semua buku yang sesuai dengan usia perkembangan dan minat anak dapat dijadikan sarana untuk read aloud. “Hanya dengan kurang lebih 20 menit setiap hari (melakukan read aloud), kita dapat membangun pondasi minat dan kecintaan anak terhadap buku dan membaca kelak,” pungkas Evi.
Bagi yang tertarik untuk memahami lebih menyeluruh tentang read aloud,silahkan akses http://www.readingbugs.org, atau mengikuti komunitas read aloud yang sudah kian tumbuh Indonesia, seperti komunitas Reading Bugs pimpinan Roosie Setiawan di Jakarta yang kerap menyelenggarakan training dan workshop.