Senin, 29 November 2010

Ringkasan Buku Cinta Tak Pernah Menari - Kumpulan Cerpen Remaja

Tidak banyak penulis cerita pendek Indonesia yang memiliki kesegaran dan kelincahan dalam bercerita. Di dalam buku ini, Asma Nadia mencoba menjembatani antara keterampilan bercerita yang ia kuasai dan tuntutan isi yang mutlak dibutuhkan dalam karya sastra. Beragam tema ia kendalikan dengan baik: dari hal yang rumit, sampai persoalan yang sangat sepele. Asma Nadia seolah-olah hendak membuktikan bahwa sesuatu yang "berat" bisa dikemas menjadi sangat sederhana. Tentu saja itu tidak gampang.

Joni Ariadinata--cerpenis, redaktur Jurnal Cerpen Indonesia

Membaca cerpen-cerpen Asma Nadia, ternyata realisme belum mati. Bagi remaja, cerita-cerita keseharian dengan realitas di kelas sosial pinggiran, sangat penting untuk mengasah nurani. Maka bacalah dan hati kita akan terus terjaga untuk tetap mengasihi sesama.
Gola Gong--novelis dan pengelola Pustakaloka Rumah Dunia

Setting "dunia yang terpinggirkan" senantiasa menarik bagi para penulis cerpen, termasuk Asma Nadia. Tapi dia ternyata juga fasih ketika bercerita tentang kalangan yang sama sekali berbeda, yaitu kalangan "atas" yang terkesan identik dengan hedonisme. Gaya penulisannya pun variatif, dari pendekatan "dramatik emosional" yang cenderung serius, sampai ke cas-cis-cus gaya remaja yang segar. Di antara sepuluh cerpen dalam kumpulan ini, yang paling menarik bagi saya ialah Ibu Pergi Sebulan, yang ternyata justru terbebas dari gaya-gayaan tadi, tapi kuat dalam keunikan gagasannya.
Jujur Prananto---penulis cerpen dan skenario

Buat anak-anak muda yang baca buku ini, I'm telling you, you are reading the right book! Pokoknya baca sampai habis, you'll be inspired, and grateful, plus lebih berani untuk mikir dan tampil beda. Lebih maju!
Dewi Hughes Spd.---presenter

Dimensi: 11 x 18 cm
Tebal: 152 halaman
Cover: Soft Cover
ISBN: 979-22-0466-0
Kategori: Teens/Roman Remaja

Tentang Pengarang: Asma Nadia
Asma Nadia adalah nama pena Asmarani Rosalba yang lahir di Jakarta tahun 1972 dari pasangan Amin Usman dan Maria Eri Susianti. Setelah lulus dari SMU 1 Budi Utomo, Jakarta, ia mulai aktif mengirimkan tulisannya ke majalah-majalah Islam, selain tetap aktif menulis lagu yang sebagian bisa ditemukan di album Bestari I (1996), Bestari II (1997 ), dan Bestari III (2003), Snada The Presentation, Air Mata Bosnia (Snada), Cinta Ilahi (Snada), dan Kaca Diri.

Sabtu, 27 November 2010

Mengenal Persepsi, Ilusi, dan Halusinasi


Kita tentu sering sekali mendengar istilah persepsi, ilusi, maupun halusinasi. Pada ilmu kejiwaan, kata-kata tersebut sangat akrab bagi mereka yang berkecimpung di dalamnya. Tapi apa sebenarnya persepsi, ilusi, dan halusinasi ditinjau dari sisi kejiwaan ?
Persepsi adalah hasil interaksi antara dua faktor, yaitu faktor rangsangan sensorik yang tertuju kepada individu atau seseorang dan faktor pengaruh yang mengatur atau mengolah rangsangan itu secara intra-psikis. faktor-faktor pengaruh itu dapat bersifat biologis, sosial, dan psikologis. Karena adanya proses pengaruh-mempengaruhi antara kedua faktor tadi, di mana di dalamnya bergabung pula proses asosiasi, maka terjadilah suatu hasil interaksi tertentu yang bersifat "gambaran psikis".
Ilusi adalah suatu persepsi panca indera yang disebabkan adanya rangsangan panca indera yang ditafsirkan secara salah. Dengan kata lain, ilusi adalah interpretasi yang salah dari suatu rangsangan pada panca indera. Sebagai contoh, seorang penderita dengan perasaan yang bersalah, dapat meng-interpretasikan suara gemerisik daun-daun sebagai suara yang mendekatinya. Ilusi sering terjadi pada saat terjadinya ketakutan yang luar biasa pada penderita atau karena intoksikasi, baik yang disebabkan oleh racun, infeksi, maupun pemakaian narkotika dan zat adiktif.
Ilusi terjadi dalam bermacam-macam bentuk, yaitu ilusi visual (penglihatan), akustik (pendengaran), olfaktorik (pembauan), gustatorik (pengecapan), dan ilusi taktil (perabaan).
Halusinasi adalah persepsi panca indera yang terjadi tanpa adanya rangsangan pada reseptor-reseptor panca indera. Dengan kata lain, halusinasi adalah persepsi tanpa obyek.
Halusinasi merupakan suatu gejala penyakit kejiwaan yang gawat (serius). Individu mendengar suara tanpa adanya rangsangan akustik. Individu melihat sesuatu tanpa adanya rangsangan visual, membau sesuatu tanpa adanya rangsangan dari indera penciuman.
Halusinasi sering dijumpai pada penderita Schizophrenia dan pencandu narkoba. Halusinasi juga dapat terjadi pada orang normal, yaitu halusinasi yang terjadi pada saat pergantian antara waktu tidur dan waktu bangun. Hal ini disebut halusinasi hypnagogik.
Bermacam-macan bentuk halusinasi
Halusinasi akustik (pendengaran)
Halusinasi ini sering berbentuk :
  • Akoasma, yaitu suara-suara yang kacau balau yang tidak dapat dibedakan secara tegas
  • Phonema, yaitu suara-suara yang berbentuk suara jelas seperti yang berasal dari manusia, sehingga penderita mendengar kata-kata atau kalimat kalimat tertentu
Halusinasi visual (penglihatan)
Penderita melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Halusinasi visual sering menimbulkan ketakutan yang hebat pada penderita.
Halusinasi olfaktorik (pembauan)
Penderita membau sesuatu yang tidak dia sukai. Halusinasi ini merupakan gambaran dari perasaan bersalah penderitanya.
Halusinasi gustatorik (pengecap)
Halusinasi gustatorik murni jarang dijumpai, tetapi sering terjadi bersama-sama dengan halusinasi olfaktorik.
Halusinasi taktil (perabaan)
Halusinasi ini sering dijumpai pada pencandu narkotika dan obat terlarang.
Halusinasi haptik
Halusinasi ini merupakan suatu persepsi, di mana seolah-olah tubuh penderita bersentuhan secara fisik dengan manusia lain atau benda lain. Seringkali halusinasi haptik ini bercorak seksual, dan sangat sering dijumpai pada pencandu narkoba.
Halusinasi kinestetik
Penderita merasa bahwa anggota tubuhnya terlepas dari tubuhnya, mengalami perubahan bentuk, dan bergerak sendiri. Hal ini sering terjadi pada penderita Schizophrenia dan pencandu narkoba.
Halusinasi autoskopi
Penderita seolah-olah melihat dirinya sendiri berdiri di hadapannya.
Penderita Schizophrenia sangat perlu dikasihani karena penderitaan yang dialaminya. Tetapi mengapa banyak orang memilih untuk mengubah hidupnya yang indah dan berharga dengan memakai narkoba dan mengalami berbagai macam gangguan kejiwaan yang serius ? Tak seorangpun yang tahu ...

Fenomena Buku Novel Remaja (Teenlit)

Bagi para pecinta buku novel, istilah teenlit tentu bukan hal asing. Apakah teenlit itu? Teenlit adalah singkatan dari “teen” yang berarti remaja, dan literature yang berarti sastra/tulisan. Jadi berdasarkan singkatan katanya, teenlit adalah sebuah karya tulis atau sastra yang tema dan pangsa pasarnya adalah para remaja.
Buku novel jenis ini sangat marak sejak tahun 2000-an. Berbagai judul novel teenlit bermunculan dari penerbit-penerbit. Peminatnya yang sangat banyak membuat produktivitas buku novel ini cukup tinggi melebihi buku-buku lain.
Ciri-ciri teenlit adalah selalu mengangkat permasalahan umum yang dialami para remaja. Cinta, persahabatan, permusuhan, persaingan, adalah beberapa contoh yang menjadi tema buku novel satu ini. Selain itu, teenlit umumnya memiliki peran utama seorang gadis dan memakai bahasa ringan, baik dalam bentuk baku maupun tak baku (bahasa gaul).
Dengan tema menarik dan bahasa yang selalu mudah dimengerti, teenlit pun banyak digemari oleh para remaja. Tak hanya para remaja, respon dari masyarakat luas pun juga cukup baik. Tapi, walau begitu banyak yang menyukai buku novel bertema remaja ini, tak sedikit pula yang mencibir keberadaan teenlit yang memenuhi rak-rak di toko buku.
Banyak yang menilai bahwa teenlit adalah suatu karya yang tidak berbobot dan memiliki nilai sastra rendah. Kritikan tajam ini umumnya datang dari sastrawan/penulis  maupun penggemar buku-buku novel yang bertema lebih berat. Namun, seperti kata pepatah, walau banyak kritikan yang terlontar, novel teenlit tetap saja mampu merajai pasaran buku.

Buku Novel Remaja yang Difilmkan
Selain laku di toko buku, buku novel bertema teenlit ini ternyata sukses pula dalam perfilman. Hal ini terbukti dengan beberapa judul novel teenlit yang diubah dalam bentuk film, baik televisi maupun diangkat ke layar lebar. Berikut ini beberapa contoh judul novel teenlit yang berhasil dalam perfilman.
  • Eiffel I’m in Love

    Novel yang ditulis oleh Rachmania Arunita ini diangkat ke layar lebar pada 21 November 2003. Dimainkan oleh artis muda Shandy Aulia (Tita) dan Samuel Rizal (Adit).


    Cerita teenlit ini berkisah tentang seorang pemuda (Adit) yang harus tinggal di rumah Tita karena mereka akan dijodohkan. Tapi perjodohan ini tidak mulus, karena selain perbedaan karakter yang mencolok, Tita sendiri sudah memiliki pacar bernama Ergi.

    Walau banyak konflik yang terjadi, namun pada akhirnya kedua remaja ini pun saling jatuh cinta.
  • Dealova

    Novel teenlit yang terbit pada tahun 2005 ini kemudian diangkat ke layar lebar pada tahun yang sama. Cerita ini mengangkat kisah cinta segitiga antara Kara (Jessica Iskandar), Dira (Ben Joshua), dan Ibel (Evan Sanders).


    Kara yang berkarakter cuek lebih memilih Dira yang bersikap dingin daripada Ibel yang selalu lembut dan perhatian. Namun Dira dan Kara yang berpacaran harus mengalami hal pahit. Dira terserang penyakit dan akhirnya meninggal.

  • Fairish

    Buku novel remaja ini terbit tahun 2004 dan menarik perhatian banyak remaja. Walau tidak diangkat ke layar lebar, cerita ini sempat dijadikan sinetron di salah satu stasiun televisi swasta.


    Novel ini berkisah tentang Davi yang harus berpura-pura pacaran dengan Fairish atau yang biasa dipanggil Irish. Davi sendiri adalah pemuda sempurna yang menjadi murid pindahan di sekolah Irish.


    Konflik terjadi saat masa lalu Davi terungkap dan muncul Alfa, pemuda yang selalu mengganggu hubungan Davi dan Irish. Walau hanya pura-pura pacaran, Davi pun menaruh rasa pada Irish, begitu pula Alfa.
  • http://www.anneahira.com